Cinta Untuk Kehidupan dan Hidup Untuk Mencintai

Soekarno pernah berkata “Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik suatu golongan adat istiadat, namun milik kita semua dari Sabang sampai Merauke”. Jika kita renungkan kembali, kalimat ini sangatlah bermakna dan sangat penting untuk menjadi landasan kita menanggapi keberagaman yang ada di Indonesia. Negeri ini sangatlah kaya akan kebudayaan, bukan lagi budaya dimana arti dari “kebudayaan” bermakna lebih dari satu budaya yang ada. Belum lagi berbagai macat adat istiadat, suku, bahasa, dan beragam corak lainnya. Artinya Indonesia mempunyai banyak hal yang belum tentu Negara lain punyai, dan hal ini patut untuk kita sadari, maknai, hargai, dan lestarikan. Bukan Indonesia namanya jika didalamnya hanya ada satu corak, satu ragam, dan satu bentuk.

Sepertinya kita terlambat untuk mempertanyakan semua ini : mengapa ada keberagaman dan perbedaan dalam Indonesia, sedangkan sebelum Indonesia merdeka perbedaan itu sudah ada pada posisinya masing-masing dan tidak menjadi masalah. Artinya, dari Sabang sampai Merauke, tetap bersinergi dan bersatu menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi meraih kemerdekaan secara bersama pada masa itu, dan perbedaan maupun keberagaman tersebut tak pernah dipermasalahkan.

Kita pernah mempunyai sejarah barisan pemuda dari berbagai perwakilan daerah, seperti Pemuda Jawa,Pemuda Sumatra, dan barisan pemuda lainnya yang bersatu dalam satu visi misi meraih kemerdekaan.Hal ini haruslah kita renungkan kembali, bahwa apapun keberagaman dan perbedaan itu bukanlah hal yang diharuskan menjadi suatu masalah, karena pada dasarnya kita semua sama, makan tidur dan tinggal di bumi pertiwi yang sama. Untuk apa kita memperdebatkan keberagaman, jika kemerdekaan negeri ini saja diraih oleh pemuda-pemuda yang beragam sukunya, beragam bahasanya, beragam kebudayaanya.

Mengenai keberagaman dalam agama yang ada negeri ini, sepertinya ini sudah tersampaikan dalam Falsafah Indonesia yakni Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu jua. Berbeda agama, berbeda keyakinan, berbeda warna kulit, berbeda kepercayaan, berbeda pola pikir, dan berbeda pendapat, itu adalah bagian dari sejarah Indonesia, dan itulah cirikhas Indonesia. Tanpa kesemua hal itu, kemerdekaan belum tentu ada dan belum tentu dapat diraih. Soekarno pernah berkata “Jangan Sesekali Melupakan Sejarah”, ya sejarah kita mempunyai banyak warna warni yang indah yang belum tentu Negara lain mempunyai warna-warna itu.

Ada satu kalimat yang harus kita tanamkan pada diri kita semua, yakni “Kita bukan saudara seagama,namun kita saudara dalam kemanusiaan”. Kalimat ini jelas telah mengajarkan kepada kita bahwa sesama manusia harus saling mengasihi, menyayangi, menjaga dan membantu, terlepas dari apapun agamanya, apapun kepercayaannya. Sama halnya dengan “Urip neng alam dunyo iki gak iso wong islam tok” yang artinya “Hidup didunia ini tidak bisa hanya untuk muslim saja”, dari hal ini kita renungkan kembali bahwa manusia adalah mahluk social bukan individual, saling berkaitan satu sama lain dan saling membutuhkan satu sama lain, terlepas dari apapun kepercayaan individunya. Dalam islam sendiri ada kalimat petuah yakni “Habluminallah wa Habluminannas” yang menegaskan bahwa menjaga hubungan kepada Allah dan menjaga hubungan kepada sesama manusia, dari hal ini kiranya umat islam di Indonesia merenungkan kembali apa yang telah kita perbuat selama ini baik atau buruk untuk sesama manusia? Apakah selama ini kita sudah “Memanusiakan manusia” terlepas dari keberagaman dan perbedaan yang ada? Apakah kita sudah merasa tidak memerlukan bantuan manusia kala kematian mendatangi kita?

Bahkan Allah SWT memerintahkan Nabi untuk memberikan perlindungan kepada orang kafir yang meminta perlindungan kepada beliau, seperti firmannya dalam Qur’an Surat At-Taubah Ayat 6 yang berbunyi : “Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta pertolongan kepadamu,maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkan ia ketempat yangaman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”. Ibn Katsir pun menulis bahwa ayat tersebut menjadi acuan Nabi dalam memperlakukan orang musrik yang ingin mendapatkan perlindungan, terlepas dari apapun kepercayaan dia. Hal ini membuktikan bahwa Nabi saja bisa “memanusiakan manusia”, membantu siapapun yang patut dibantu. Apa yang dilakukan Nabi adalah suatu sunnah bagi umatnya, jika nabi saja membantu orang yang bukan dari golongannya mengapa kita malah menggarisbawahi “perbedaan” tersebut.? Mengapa kita tidak menggarisbawahi “kemanusiaan”itu sendiri.?

Kita sering teriak “ketuhanan” namun kita melupakan “kemanusiaan”, sedangkan kita hidup ditengah-tengah masyarakat, ditengah-tengah bejubel manusia di Bumi. Manusia mana yang tidak ingin melihat banyak ketenangan, ketentraman, dan kedamaian di muka bumi ini, pastilah kita semua ingin melihat dan merasakan itu semua. Kita semua terlalu nyaman untuk meributkan perbedaan, padahal untuk mencapai keharmonisan harus ada tenggang rasa, menghormati perbedaan, mencari kesamaan, tidak memaksakan kehendak pribadi pada orang lain, bahkan ada petuah lama berbunyi “Janganlah merasa bisa, tapi bisalah merasa”. Ya, kita harus bisa mengolah rasa, rasa untuk kemanusiaan, rasa untuk saling menjaga melindungi dan mengasihi, rasa dimana membantu dan menolong bukan sebatas“kepercayaan” melainkan atas dasar “sesama mahluk hidup”.

Bagi orang-orang terdahulu, ada sebuah falsafah hidup “Memayu Hayuning Bawana” yang artinya “Memelihara Alam Semesta”, yang dalam hal ini adalah menjaga keteraturan didunia, memperindah dunia dengan perilaku-perilaku yang menyejukan, dimana sifat dan sikapnya adalah suka memberi makan kepada orang yang kelaparan, memberi bantuan dan perlindungan kepada yang membutuhkan,memberi air kepada orang yang kehausan, dan tindakan ini tidak memandang suatu perbedaan karena lahir dari “rasa” yang dimiliki seseorang, rasa kemanusiaan. Begitu juga perilaku “Tepa Salira” dan “Bisa Rumangsa”, laku tenggang rasa tidak menyombongkan diri, ada rasa kebersamaan yang lebih diutamakan, tidak mempertajam perbedaan, hal ini adalah bagian dari Memayu Hayuning Bawana.

Ada petuah lama berkata : “Karyenak Tyasing Sesama” yakni sebuah watak atau perilaku yang berusaha menyenangkan orang lain. Menyenangkan dalam hal ini adalah perilaku yang bijaksana,perilaku yang menyenangkan dan menentramkan orang lain, mendahulukan kepentingan bersama(kedamaian dan ketentraman) dibanding kepentingan pribadi (Ego), namun dilandasi sikap tanpa pamrih (Sepi Ing Pamrih) dan sepenuh hati (memberi kemudahan bagi orang lain, tidak menyakiti orang lain). Kebahagiaan seperti apa yang bisa kita dapatkan jika kita tidak memiliki pekerti yang baik menanggapi suuatu keberagaman.? Menolong orang lain dengan ikhlas, memberikan contoh yang baik dan berguna bagi seisi dunia, menjadi pelindung yang baik bagi yang memerlukan dan memaafkan kesalahan orang lain dengan bijak, bukankah suatu kebahagiaan tersendiri jika itu semua kita maknai dan kita jiwai.?

Coba sejenak kita diamkan diri, duduk diantara penghujung malam bersama udara-udara segar dan menatap langit serta alam yang terbentang luas ini. Bintang-bintang, langit yang menghadirkan pelangi yang indah dengan banyak warna yang berbeda-beda, indah jika kita memaknainya. Begitupula dengan kemerdekaan Indonesia, ia lahir dari beragam pemuda yang berbeda suka bahasa agama dan budaya,dan alam semesta yang indah ini diciptakan Tuhan dengan berbagai macam mahluk hidup yang beragam. Salinglah merangkul untuk saling melengkapi, karena cinta untuk sebuah kehidupan dan hidup tak berwarna tanpa sebuah cinta.

Advertisements

Hari Anak : Pendidikan Tak Mendidik

Pendidikan saat ini patut diperhatikan sistem serta pola-polanya, mengingat jalannya proses sistem pendidikan yang terkesan memaksa atau menekan siswa. Jika selama ini aspirasi mengenai pendidikan adalah pendidikan hak sebagai warga Negara, atau pendidikan harus merata ke berbagai daerah, atau pendidikan harus menyentuh semua elemen, mari kita lihat sejenak pada konteks pola pembelajaran dan tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Beberapa waktu yang lalu diterapkannya UNBK atau Ujian Nasional Berbasis Komputer bagi siswa yang ingin ujian kelulusan. Sistem dan konsep ini bagus diterapkan, katanya. Namun nyatanya malah terasa memaksa siswa mengikuti apa yang belum menjadi kapasitas diri mereka. Pertanyaannya apakah semua siswa di Indonesia ini melek tentang teknologi? Sudah pasti belum tentu semua siswa mempunyai keahlian dan kapasitas ini.

Komputer atau alat ujian nasional lainnya yang berbasis teknologi belum bisa diadaptasikan dan dialokasikan pada sekolah-sekolah yang ada di pedesaaan atau pedalaman, mengingat proses pembelajaran didaerah tersebut disesuaikan dengan kemampuan siswa, yakni tahapan baca-membaca, tulis-menulis, hitung-berhitung. Sudah sampai tahapan ini saja sudah syukur akan perkembangan siswa, namun sering kali pembelajaran berbasis teknologi dipaksakan kepada pelajar, sehingga tidak sedikit pelajar yang kesulitan dan tertekan dengan system pembelajaran tersebut.

Dalam hal jaringan atau koneksi serta persediaan listrik. Bukan satu dua tiga kasus dimana siswa-siswa ketakutan terhadap matinya listrik saat ujian atau buruknya jaringan pada saat ujian, sehingga siswa sulit untuk menjawab soal-soal ujian dikarenakan sudah tertekan dengan kondisi yang demikian. Belum lagi sekolah yang tidak mempunyai fasilitas komputer, banyak siswa-siswa dipindahkan ke sekolah lain yang mempunyai fasilitas computer walau menempuh jarak puluhan kilometer. Hal tersebut sangat memaksa siswa dan memberi tekanan kepada siswa (rasa depresi), karena proses tersebut sangat menganggu kestabilan berpikir siswa.

Seperti contoh kasus di Balikpapan dalam hal ketersediaan listrik, atau di Tegal dalam hal perpindahan siswa dari sekolahnya ke sekolah lain yang jarak tempuhnya berkilo-kilometer dan menguras pikiran, atau di Gunung Kidul dan Depok yang ujian nasionalnya bersesi-sesi (dibagi-bagi rentang waktunya) dan ketersediaan komputernya belum memadai, atau di Bandung yang dalam hal ini mengalami kesulitan jaringan sehingga harus diperbaiki saat ujian nasional. Kesemua hal diatas sangat tidak melihat kontekstual siswa, semua siswa disamaratakan menelan apa-apa yang belum saatnya ditelan oleh mereka. Memaksakan dan menyulitkan.

Belum lagi baru-baru ini ada diskriminasi yang dilakukan pihak sekolah terhadap calon siswi yang ingin belajar disekolah tersebut. Hanya karena siswi tersebut mempunyai penyakit yang harus diobati dengan pelayanan transfuse darah 2 bulan sekali, pihak sekolah merasa keberatan dan merasa dibebani oleh calon siswi tersebut. Alasannya diperkuat dengan pernyataan bahwa siswa-siswi yang belajar disekolah tersebut adalah siswa-siswa yang umum, yang dalam artian tidak memiliki penyakit atau kelainan lainnya. Ini sangat jelas mendiskriminasi dan mematikan hak anak untuk mendapatkan akses pendidikan dan akses memperoleh informasi.

Dari contoh-contoh kasus diatas, sudah jelas program Ujian Nasional Berbasis Komputer sangatlah tidak efektif bahkan sangat belum bisa diterapkan kepada siswa. Siswa bukanlah kelinci percobaan, dimana siswa yang belum mengerti computer harus dipaksakan mengikuti ujian basis computer, seakan-akan pendidikan di Ibukota yang sudah melek teknologi layak diterapkan ke berbagai daerah yang notabene masih belum memasuki tahap tersebut. Alih-alih agar semua siswa cerdas dan pintar, malah memblunder.

Menjadikan Robot Bukan Manusia

Pelajar dalam hal ini anak-anak bukan lagi dididik menjadi manusia yang memanusiakan manusia melainkan diciptakan untuk menjadi pesaing yang bersaing di dunia pendidikan dan pekerjaan.

Masa-masa yang seharusnya dilewati anak-anak dengan pembangunan karakter dan sifat-sifat kebijaksanaan, diganti dengan pembangunan mental pesaing yang ujungnya adalah bersaing dengan siswa-siswa lain untuk mendapatkan nilai tinggi, predikat dan status tinggi, serta diciptakan untuk menjadi pekerja yang siap bersaing ditengah kemajuan dunia. Ini sudah lari dari hakikat dan tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Di media-media banyak diberitakan berbagai sekolah menciptakan dunia pendidikan yang melulu tentang uang, keahlian, dan kemampuan siswa. Ini kenyataan, terjadi dibeberapa sekolah baik dasar maupun menengah keatas. Membentuk siswa-siswanya bersaing satu sama lain dalam berbagai mata pelajaran, dimana siapa yang pintar mendapat nilai tinggi, siapa yang cepat mengerjakan tugas diberi label siswa berpredikat bagus, siapa yang ahli dalam bidang tertentu akan dispesialkan.

Dari metode-metode pembelajaran seperti ini, wajar saja jika permusuhan antar siswa didalam satu kelas terciptakan, pembunuhan-pembunuhan antar siswa terlakukan karena adanya kesenjangan sosial yang memang sengaja diciptakan para pengajar atau para pendidik. Seakan-akan dunia sekolah atau dunia pendidikan adalah ajang bersaing, ajang sikut-menyikut satu sama lain, ajang siapa yang benar siapa yang salah, siapa yang pandai dan siapa yang bodoh. Semua diakumulasikan berdasarkan siapa pemilik nilai tertinggi, siapa pemilik nilai terendah. Ruang dan waktu pembelajaran pun akan terasa bukan lagi pertemanan antar siswa, melainkan perdebatan satu dengan siswa lainnya.

Siswa-siswi dibentuk mempunyai kepribadian yang selalu mengedepankan angka, nominal, atau nilai, yang secara tidak langsung membuat mereka materialism, menganggap apa-apa yang ada didunia ini bisa dihargai oleh nominal atau angka, padahal masih ada sesuatu yang tidak bisa dinilai bahkan tidak ternilaikan oleh angka maupun nominal lainnya. Karakter-karakter seperti inilah yang membuat kepribadian anak –dalam hal ini siswa- menjadi mudah menyepelekan temannya atau sahabatnya karena adanya batasan berdasarkan nilai atau angka-angka tersebut.

Belum lagi interaksi antara anak-anak (pelajar) dengan pengajar hanya satu arah, dimana siswa harus menuruti apa yang diajarkan pengajar. Ketika siswa mencoba kritis dan mencari tahu lebih dalam dengan bertanya atau melihat ada kesalahpahaman terhadap apa yang diajar, pengajar malah menghakimi dan menghukum siswa tersebut atas dasar murid harus menghormati dan mengikuti kata pengajar walaupun yang diajarkan salah dan keluar dari koridor materi.

Tidak sedikit kasus dimana siswa-siswi depresi, tertekan mengerjakan soal, kebingungan dalam memahami soal per soal yang diajukan, bahkan takut untuk mencoba pendekatan dengan para pengajar hanya karena terbiasa ditekan secara psikis oleh guru dan pengajar lainnya.

Hilangnya Nilai-Nilai Ki Hadjar Dewantara

Tut Wuri Handayani. Adalah kalimat yang ditanamkan oleh Ki Hadjar Dewantara, dan kalimat ini menjadi slogan yang dibawa kemana-mana bersamaan dengan logo pendidikan di Indonesia. Kalimat ini artinya Memberikan dorongan moral, motivasi, atau semangat dari belakang, baik semangat untuk belajar atau semangat untuk berkembang.

Kalimat ini seutuhnya adalah Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Yang berarti : Didepan kita memberi contoh suri tauladan bagi orang-orang sekitar, Ditengah-tengah kita membangun atau membangkitkan kemauan orang-orang sekitar, Dibelakang memberikan dorongan moral, semangat, motivasi kepada orang-orang sekitar kita. Jadi petuah ini secara tidak langsung mengajarkan kita untuk bersifat kebijaksanaan, mengayomi siapa saja, merangkul orang-orang sekitar dan menyemangatinya menuju hal-hal yang baik tanpa melepas dorongan semangat tersebut.

Namun ironisnya adalah nilai-nilai diatas yang dikutip hanyalah Tut Wuri Handayani saja, banyak kita temui logo pendidikan Indonesia dibawahnya bertuliskan petuah tersebut, itupun pengamalan dan tingkah laku para pengajar dalam hal ini guru maupun yang dituakan malah berbanding balik dari petuah tersebut. Pengamalan terhadap nilai-nilai Tut Wuri Handayani tidak ada, dan penjiwaannya pun sembarang. Lebih lucu lagi yang diadaptasikan hanya nilai terakhir saja, nilai pertama dan nilai kedua malah dihilangkan dan diabaikan.

Jika ketiga nilai diatas diamalkan oleh pengajar, ditanamkan kepada murid-murid atau anak-anak, dan menjiwai nilai-nilai tersebut dimanapun dan kapanpun, pastilah anak-anak tidak menjadi kelinci percobaan oleh pengajar-pengajar yang berkedok malaikat pendidikan. Dan pastilah anak-anak yang diberi nilai-nilai pemahaman tersebut akan menjadi bijaksana baik dalam perbuatan, perkataan, maupun pikiran. Karena hakikat peran orangtua pun demikian yang harus dilakukan.

Dari kesemua hal-hal diatas sepertinya sIstem pendidikan maupun metode pembelajaran haruslah segera dipikirkan kembali,karena anak-anak lahir secara manusia dan harus menjadi manusia, bukan kelinci percobaan ataupun manusia yang dirobotkan oleh pengajar. Metode-metode pembelajaran, praktik pembelajaran dan pengkajian didalam dan luar kelas, cara interaksi antara anak dengan orangtua atau murid dengan pengajar, dan visi misi dari pendidikan itu sendiri, haruslah dipikirkan ulang dan dikembalikan sebagaimana mestinya.

Anak atau murid bukanlah hewan yang harus menuruti apa saja, bukan pula robot yang tidak dinamis dan tidak fleksibel, bukan pula batu dan kayu yang harus dibentuk pola berpikirnya, bukan pula mesin yang diciptakan sebagai pekerja atau jantung dari perusahaan-perusahaan, bukan pula kelinci percobaan untuk saling bersaing dengan siswa-siswa lain.

25 Juli 2017